![]() |
| Ilustrasi |
Oleh: Frids Wawo Lado
Ada satu kebiasaan sosial yang tampak sepele, dibungkus senyum, dilontarkan dengan nada bercanda, tetapi sesungguhnya menusuk lebih dalam dari yang kita kira, pertanyaan tentang kapan menikah dan kapan punya anak.
“Kapan nyusul?”
“Umur sudah segini, belum juga menikah?”
“Jangan terlalu pilih-pilih, nanti keburu tua.”
“Atau jangan-jangan ada yang salah?”
Pertanyaan-pertanyaan itu sering dilontarkan di ruang publik, seperti di pesta keluarga, di kantor, di acara keagamaan, bahkan di media sosial. Diucapkan lantang, disaksikan banyak orang, seolah status pernikahan adalah urusan bersama. Seolah hidup seseorang adalah milik publik yang bebas diinterogasi.
Padahal tidak.
Ada orang yang belum menikah karena sedang membangun karier dengan sungguh-sungguh. Ada yang belum menikah karena belum menemukan pasangan yang tepat.
BACA JUGA: Fenomena FB Pro Penuh Duka yang Dijual, Mengejar Viral
Ada yang pernah terluka dan masih belajar sembuh. Ada yang menunda karena tanggung jawab keluarga. Ada yang diam-diam sedang berjuang menghadapi trauma, kehilangan, atau kegagalan yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Dan ada yang belum menikah bukan karena tidak laku, bukan karena terlalu memilih, bukan karena “tidak normal”, tetapi karena hidup memang tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi sosial.
Lebih menyakitkan lagi ketika pertanyaan itu berubah menjadi penghakiman.
“Perempuan itu kodratnya menikah.”
“Laki-laki kalau belum menikah pasti ada yang tidak beres.”
“Belum punya anak? Wah, kasihan orang tuanya.”
Kasihan? Kepada siapa? Atas dasar apa?
Sejak kapan nilai seorang manusia diukur dari cincin di jarinya atau jumlah anak yang ia miliki?
Kita hidup di masyarakat yang sering kali merasa berhak atas pilihan hidup orang lain. Kita dibesarkan dengan standar tunggal, sekolah, kerja, menikah, punya anak. Seolah-olah hidup adalah garis lurus tanpa tikungan. Seolah-olah semua orang punya peta yang sama.
Padahal hidup setiap orang adalah lanskap yang berbeda. Ada yang jalannya berliku, ada yang mendaki, ada yang harus memutar jauh sebelum sampai ke tujuan. Dan tidak semua tujuan adalah pernikahan atau anak.
Ironisnya, mereka yang paling sibuk bertanya sering kali tidak pernah benar-benar siap mendengar jawaban jujur.
Mereka hanya ingin memastikan bahwa orang lain mengikuti pola yang sama dengan mereka. Ada ketakutan tersembunyi di balik pertanyaan itu, ketakutan bahwa pilihan hidup yang berbeda adalah ancaman terhadap keyakinan mereka sendiri.
Padahal yang berbeda tidak selalu salah.
Pertanyaan tentang pernikahan dan anak bukan saja basa-basi. Bagi sebagian orang, itu adalah luka yang terus digaruk. Bayangkan seseorang yang sudah bertahun-tahun mencoba memiliki anak tetapi gagal.
Bayangkan seseorang yang baru saja kehilangan pasangan. Bayangkan seseorang yang sedang berjuang dengan kondisi medis yang tidak ia pilih.
Lalu di hadapan banyak orang, ia ditanya, “Kok belum punya anak juga?”
Kita mungkin tertawa. Ia mungkin tersenyum. Tetapi di dalam hatinya, ada yang runtuh.
Menikah adalah pilihan. Punya anak adalah keputusan. Keduanya adalah komitmen besar yang tidak seharusnya dipercepat hanya demi meredam komentar sosial.
Pernikahan yang dipaksakan demi menjawab pertanyaan orang lain sering kali berakhir dengan penderitaan yang jauh lebih besar.
Mengapa kita begitu mudah menekan orang untuk menikah, tetapi tidak pernah siap menanggung dampak jika pernikahan itu gagal? Mengapa kita mendesak orang untuk punya anak, tetapi tidak pernah ikut bertanggung jawab membesarkan dan menafkahi mereka?
Ada standar ganda yang kejam di sini. Saat seseorang belum menikah, ia dianggap bermasalah. Tetapi ketika seseorang menikah lalu bercerai karena hubungan yang tidak sehat, masyarakat yang sama akan berbisik sinis.
Ketika seseorang tidak punya anak, ia dikasihani. Tetapi ketika seseorang punya anak dan kesulitan ekonomi, ia juga dihakimi.
Apa pun pilihanmu, selalu ada yang merasa berhak menilai.
Itulah sebabnya kita perlu belajar satu hal yang sederhana tetapi revolusioner: menghormati ruang hidup orang lain.
Tidak semua pertanyaan perlu ditanyakan. Tidak semua rasa ingin tahu perlu dipuaskan. Ada batas antara peduli dan kepo. Ada garis tipis antara perhatian dan intervensi yang tidak sopan.
Menanyakan kabar dengan tulus berbeda dengan menginterogasi status pernikahan di depan umum. Memberi dukungan berbeda dengan memberi tekanan.
Kita sering lupa bahwa setiap orang sedang berjuang dengan caranya sendiri. Ada yang berjuang mencari pasangan yang sehat secara emosional.
Ada yang berjuang menyembuhkan diri sebelum siap berbagi hidup dengan orang lain. Ada yang memilih tidak menikah dan tetap hidup bermakna, berkontribusi untuk keluarga, masyarakat, dan pekerjaan mereka.
Apakah hidup mereka kurang berharga?
Nilai seseorang tidak ditentukan oleh status hubungan. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh jumlah anak. Nilai seseorang ditentukan oleh integritasnya, empatinya, kebaikannya, kontribusinya.
Dan yang paling penting, oleh kebebasannya memilih jalan hidupnya sendiri.
Maka berhentilah menjadikan pernikahan sebagai tolok ukur kedewasaan. Berhentilah menjadikan anak sebagai bukti kesuksesan hidup. Berhentilah mempermalukan orang di ruang publik dengan pertanyaan yang seolah ringan tetapi sesungguhnya berat.
Jika benar kita peduli, tanyakanlah:
“Apakah kamu bahagia?”
“Apakah kamu baik-baik saja?”
“Adakah yang bisa saya bantu?”
Itu jauh lebih manusiawi.
Kita tidak pernah tahu luka apa yang sedang ditutup seseorang dengan senyum. Kita tidak pernah tahu doa apa yang sedang ia panjatkan diam-diam setiap malam. Jangan tambahkan beban hanya karena kita merasa berhak bertanya.
Hidup bukan perlombaan. Tidak ada garis finis yang sama untuk semua orang. Ada yang menikah di usia muda dan bahagia. Ada yang menikah di usia matang dan lebih siap. Ada yang memilih tidak menikah dan tetap utuh.
Semua itu sah. Yang tidak sah adalah menghakimi.
Jadi lain kali ketika lidah Anda gatal ingin bertanya, “Kapan menikah kepada seseorang yang belum menikah atau mengapa belum ada anak jika pasutri itu telah menikah sekian tahun, tahanlah sejenak. Gantilah dengan doa yang baik dalam hati. Atau lebih baik lagi, diam.
Karena kadang, bentuk kepedulian paling tulus adalah menghormati pilihan yang bukan milik kita. ***

0 Komentar