Penulis: Frids Wawo Lado (Warga Negara Indonesia yang mencintai Republik ini dalam situasi apa pun)
============================
Dalam diskursus geopolitik modern, pertanyaan tentang relevansi strategi perang klasik sering muncul kembali. Salah satu yang paling sering diperdebatkan adalah konsep perang gerilya dan pertahanan rakyat semesta.
Banyak yang menganggap konsep tersebut sudah usang di tengah era drone, satelit militer, kecerdasan buatan, dan perang siber. Namun jika dilihat dari perspektif sejarah, geografi, dan dinamika konflik global, kesimpulannya jauh lebih kompleks.
Bagi Indonesia, konsep pertahanan nasional tidak pernah berdiri hanya pada kekuatan militer konvensional.
Negara ini sejak awal merumuskan doktrin pertahanan yang unik, yakni Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata).
BACA JUGA: Berhentilah Menghakimi yang Belum Menikah dan Belum Punya Anak
Doktrin tersebut menempatkan militer sebagai kekuatan utama dan rakyat sebagai kekuatan pendukung dalam sistem pertahanan negara. Konsep ini bukan hanya sebuah teori militer, tetapi lahir dari pengalaman historis perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pertanyaannya kemudian, jika Indonesia hari ini menghadapi konflik berskala besar misalnya invasi dari negara dengan teknologi militer unggul, apakah strategi gerilya dan Hankamrata masih relevan?
Warisan Gerilya sebagai DNA Pertahanan Indonesia
Konsep pertahanan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengalaman sejarah perang kemerdekaan 1945–1949. Pada periode tersebut, Republik Indonesia yang baru berdiri menghadapi kekuatan militer kolonial yang jauh lebih unggul dalam teknologi, logistik, dan organisasi militer.
Dalam operasi militer Belanda seperti Operation Product (1947) dan Operation Kraai (1948), pasukan Belanda berhasil merebut banyak wilayah penting, termasuk ibu kota Republik di Yogyakarta.
Namun kemenangan taktis tersebut tidak mengakhiri perang. Pemerintahan Republik memang terpukul, tetapi perlawanan justru berubah bentuk menjadi perang gerilya yang tersebar di berbagai wilayah.
Tokoh yang paling identik dengan strategi ini adalah Sudirman, Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia. Meski dalam kondisi sakit parah, ia memimpin perang gerilya dengan bergerak dari hutan ke hutan dan dari desa ke desa. Strategi ini membuat Belanda tidak pernah benar-benar mampu mengontrol seluruh wilayah Indonesia.
Sejarah ini membentuk satu kesadaran strategis, perang tidak selalu dimenangkan oleh teknologi paling canggih, tetapi oleh kemampuan bertahan dan memobilisasi sumber daya nasional secara menyeluruh.
Doktrin Pertahanan Perang Rakyat Semesta
Dari pengalaman sejarah tersebut lahirlah doktrin Hankamrata atau Sishankamrata. Konsep ini pada dasarnya menegaskan bahwa pertahanan negara tidak hanya menjadi tanggung jawab militer, tetapi melibatkan seluruh komponen bangsa.
Dalam kerangka ini, terdapat tiga komponen utama pertahanan:
Komponen utama: Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Komponen cadangan: warga negara yang dapat dimobilisasi ketika terjadi ancaman militer.
Komponen pendukung: sumber daya nasional, mulai dari industri hingga infrastruktur.
Doktrin ini bahkan memiliki landasan konstitusional dalam Pasal 30 UUD 1945 yang menegaskan bahwa pertahanan negara diselenggarakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta.
Dalam konteks ini, perang bukan hanya soal pertempuran di garis depan, tetapi juga ketahanan sosial, ekonomi, dan psikologis masyarakat.
Tantangan Era Modern, Teknologi Mengubah Medan Perang
Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa karakter perang telah berubah secara drastis dalam beberapa dekade terakhir. Konflik modern tidak hanya terjadi di darat, laut, dan udara, tetapi juga di ruang siber dan ruang informasi.
Ancaman seperti perang siber, disinformasi strategis, dan konflik hibrida menjadi bagian dari realitas geopolitik abad ke-21. Bahkan dalam kajian akademik pertahanan, dinamika ancaman baru ini disebut menuntut pembaruan doktrin pertahanan Indonesia agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Dengan kata lain, konsep Hankamrata tidak dapat dipertahankan dalam bentuk yang sama seperti pada era perang kemerdekaan. Ia harus beradaptasi dengan teknologi baru.
Dalam konteks modern, perang gerilya tidak hanya berarti serangan kecil di hutan atau pegunungan. Ia dapat berkembang menjadi perang asimetris multidomain, yang mencakup:
operasi siber
sabotase logistik
perang informasi
operasi ekonomi
mobilisasi masyarakat sipil dalam bentuk pertahanan sipil.
Faktor Geopolitik, Indonesia sebagai “Benteng Kepulauan”
Selain faktor sejarah dan doktrin militer, ada satu variabel yang sering diabaikan dalam diskusi pertahanan: geografi.
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau yang membentang dari Samudra Hindia hingga Pasifik. Struktur geografis ini menciptakan kompleksitas luar biasa dalam operasi militer berskala besar.
Dalam perspektif strategi militer, invasi terhadap negara kepulauan besar memiliki beberapa tantangan utama:
Logistik.
Pasukan invasi harus mempertahankan jalur suplai laut yang panjang dan rentan diserang.Kontrol wilayah.
Menguasai ibu kota tidak otomatis berarti menguasai seluruh negara.Medan tempur.
Hutan tropis, pegunungan, dan wilayah terpencil menjadi lingkungan ideal bagi perang gerilya.Populasi besar.
Dengan lebih dari 270 juta penduduk, potensi mobilisasi sumber daya manusia sangat besar.
Dalam teori strategi militer modern, kondisi seperti ini sering disebut sebagai deterrence by resistance, yakni kemampuan sebuah negara untuk membuat biaya invasi menjadi terlalu mahal bagi musuh.
Pelajaran dari Konflik Global
Pengalaman konflik global dalam beberapa dekade terakhir memperlihatkan pola yang menarik.
Dalam banyak kasus, militer negara besar memang mampu memenangkan pertempuran konvensional dengan cepat. Namun mereka sering kesulitan memenangkan perang jangka panjang ketika menghadapi perlawanan asimetris dari aktor lokal.
Contohnya dapat dilihat dalam konflik seperti Perang Vietnam atau perang di Afghanistan. Dalam kedua konflik tersebut, kekuatan militer yang sangat unggul secara teknologi tetap menghadapi kesulitan menghadapi perang gerilya yang berlangsung lama.
Pelajaran geopolitik dari konflik tersebut cukup jelas, teknologi dapat memenangkan pertempuran, tetapi tidak selalu memenangkan perang.
Masa Depan Hankamrata: Evolusi, Bukan Nostalgia
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah Hankamrata masih relevan, tetapi bagaimana ia berevolusi.
Dalam konteks abad ke-21, konsep pertahanan rakyat semesta kemungkinan akan berkembang menjadi bentuk yang lebih kompleks, seperti:
integrasi pertahanan militer dan sipil
pembangunan ketahanan siber nasional
penguatan industri pertahanan domestik
mobilisasi komponen cadangan berbasis teknologi.
Dalam kerangka ini, rakyat tidak lagi hanya dipandang sebagai cadangan militer, tetapi sebagai bagian dari ekosistem ketahanan nasional.
Strategi Lama dalam Dunia Baru
Jika suatu hari Indonesia menghadapi konflik besar, kemungkinan besar perang tersebut tidak akan sepenuhnya menyerupai perang kemerdekaan. Teknologi modern akan memainkan peran yang jauh lebih besar.
Namun satu hal tampaknya tetap relevan, ketahanan nasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi oleh kemampuan seluruh bangsa untuk bertahan dalam konflik jangka panjang.
Konsep gerilya dan Hankamrata mungkin berasal dari sejarah masa lalu, tetapi esensinya, mobilisasi nasional untuk mempertahankan kedaulatan, masih memiliki relevansi strategis hingga hari ini.
Dalam dunia geopolitik yang semakin tidak pasti, doktrin tersebut mungkin bukan hanya warisan sejarah, tetapi salah satu fondasi utama strategi pertahanan Indonesia di masa depan.***

0 Komentar